Ruby Chairani Dorong Generasi Muda Membumikan Empat Pilar Kebangsaan

Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Daerah Pemilihan Lampung I, Ruby Chairani Syiffadia.

Otentikindonesia.com – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI dari Daerah Pemilihan Lampung I, Ruby Chairani Syiffadia, menggelar sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di delapan titik selama tiga hari, pada 8, 9, dan 15 Desember 2025.

Politikus Partai Gerindra itu menekankan bahwa Empat Pilar Kebangsaan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar doktrin normatif, melainkan nilai yang melekat dalam praktik kehidupan sehari-hari.

“Nilai kebangsaan itu tercermin dari cara kita menyampaikan pendapat, bersikap di media sosial, hingga menyikapi perbedaan di tengah masyarakat,” kata Ruby dalam salah satu kegiatan sosialisasi, pada Senin, (8/12/2025).

Ia menyoroti Pancasila sebagai landasan etika sosial, terutama di ruang digital yang kerap dipenuhi ujaran kebencian dan polarisasi.

Menurut Ruby, perbedaan pandangan adalah keniscayaan dalam demokrasi, namun tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyerang atau merendahkan.

Ruby juga mengingatkan pentingnya pemahaman terhadap UUD 1945 agar kebebasan berekspresi tidak lepas dari tanggung jawab hukum.

Sikap kritis, kata dia, harus dibarengi kesadaran konstitusional dan kewaspadaan terhadap informasi yang menyesatkan.

Adapun makna NKRI, menurut Ruby, tidak berhenti pada simbol negara, tetapi tercermin dalam kepedulian sosial dan kesediaan melihat Indonesia sebagai rumah bersama.

Sementara Bhinneka Tunggal Ika dipahami sebagai realitas kebangsaan yang menuntut sikap saling menghormati di tengah keberagaman.

Dalam sosialisasi tersebut, Ruby juga menyinggung peran generasi muda, khususnya Generasi Z, yang dinilai kritis dan berani bersuara.

Namun ia mengingatkan agar keberanian itu tidak berubah menjadi ego sektoral atau memperdalam polarisasi.

Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ini, Ruby berharap peserta tidak hanya memahami nilai kebangsaan secara teoritis, tetapi mampu menerapkannya dalam praktik sehari-hari mulai dari berdiskusi, berkomentar, hingga berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat.

Ia menegaskan, sosialisasi Empat Pilar tidak semestinya berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi upaya berkelanjutan untuk merawat persatuan dan memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup