HMI dan Masa Depan Perkaderan: Menggali Spirit dan Motivasi Eksistensi HMI di Indonesia Timur

PAPUA BARAT_Sabtu, 13 Desember 2025 Dalam momentum Latihan Kader (LK) III BADKO HMI Papua Barat–Papua Barat Daya, seorang peserta asal BADKO Riau–Kepri dari HMI Cabang Rokan Hulu, Al Fajar, memantik diskusi mendalam mengenai sejarah panjang perjalanan HMI di Tanah Papua dan Indonesia Timur. Perspektif ini membuka kembali memori kolektif tentang bagaimana Himpunan Mahasiswa Islam hadir, tumbuh, dan beradaptasi di kawasan yang memiliki dinamika sosial-politik yang sangat berbeda dibanding wilayah lain di Indonesia.

Sejarah HMI di Papua: Jejak yang Berbeda

Al Fajar menguraikan bahwa pembentukan HMI di Papua memiliki karakter unik. Basis kampus sebagai titik awal kerap tidak sepenuhnya hadir—berbeda dengan daerah lain—karena pada masa awal kehadirannya, jumlah mahasiswa masih sangat terbatas. Justru dalam banyak catatan, pendiri dan penggerak awal HMI adalah unsur tentara, wartawan, serta para perantau yang membawa tradisi ke-HMI-an ke Papua.

Pada tahun 2022, telah diterbitkan buku sejarah dan ekstensi HMI di Papua, yang memuat dokumentasi penting perjalanan HMI di Indonesia Timur, khususnya Papua dan Maluku.

Dinamika BADKO HMI Indonesia Timur dari Masa ke Masa

Eksistensi HMI di kawasan Indonesia Timur (INTIM) memiliki alur sejarah organisasi yang panjang melalui sejumlah perubahan struktur BADKO:

BADKO INTIM (Sulawesi – Maluku – Papua): 1960–1994

BADKO MALIRJA: 1994–2001

BADKO MALPAMALUT: 2001–2004

BADKO MALMALUT: 2004–2006

BADKO Cenderawasih: 2004–2008

BADKO Papua – Papua Barat: 2008–2025

BADKO Papua Barat Daya: 2025–sekarang

Perubahan nomenklatur dan cakupan wilayah ini mencerminkan dinamika geopolitik kawasan serta kebutuhan penataan organisasi yang terus berkembang.

Spirit Awal HMI di Indonesia Timur

Menurut hasil kajian, kehadiran HMI di Papua dan kawasan INTIM didorong oleh empat spirit utama:

1. Ke-Indonesiaan (politik nasional) – HMI datang di tengah gejolak politik nasional dan menjadi ruang pembentukan kesadaran kebangsaan.

2. Ke-Mahasiswaan – Peran HMI untuk meningkatkan kapasitas intelektual generasi muda di daerah dengan akses pendidikan yang terbatas.

3. Keislaman – Menghadirkan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam konteks sosial-budaya Papua yang sangat majemuk.

4. Ke-HMI-an – Membangun identitas kader dan memperluas jangkauan organisasi ke daerah-daerah baru.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah awal kehadiran HMI di Papua berkelindan dengan kepentingan politik, sehingga wajar jika hingga kini muncul pandangan bahwa HMI “arahnya politik”. Namun, catatan sejarah memperlihatkan bahwa konteks tersebut merupakan bagian dari dinamika nasional saat itu, bukan orientasi tunggal HMI.

Anomali Perkaderan dan Organisasi HMI di Papua

Sejumlah fenomena unik terjadi dalam sejarah HMI Papua — atau yang oleh peserta disebut sebagai “anomali Indonesia Timur”:

Cabang dibentuk tanpa mekanisme standar organisasi (tanpa Konfercab dan komisariat lengkap).

Pengkaderan bukan fokus utama pada masa awal; bahkan pernah terjadi LK I sekaligus LK III dan sekaligus Konfercab dalam satu rangkaian.

Ketua Kohati pertama berasal dari HMI-Wan (B’Cho dari Cabang Jayapura).

Ketua Cabang pertama Kohati Ce’anum, juga dari Jayapura.

Ketua Cabang terpilih pertama tidak hadir pada lokasi Konfercab.

Cabang pertama di Papua tidak memakai warna hijau, melainkan merah sebagai identitas awal.

Pendiriannya bahkan mempertaruhkan nyawa, mengingat situasi politik yang sensitif dan berseberangan dengan kekuasaan.

Rangkaian anomali ini menunjukkan bahwa HMI di Papua lahir dalam kondisi luar biasa, sehingga tidak semua aturan AD/ART dapat diterapkan secara ideal pada masa awal.

Pertanyaan Besar: Kapan Tujuan HMI di Indonesia Timur Menjadi Final?

Salah satu refleksi penting dari peserta adalah mempertanyakan:

> “Kapan tujuan HMI di Indonesia Timur dirumuskan secara final?”

Pertanyaan ini muncul karena perkembangan HMI di kawasan Timur sejak awal tidak melalui mekanisme ideal, melainkan melalui proses adaptif terhadap keadaan sosial, politik, dan geografis yang sangat menantang.

Penutup: Masa Depan Perkaderan HMI di Timur Indonesia

Momentum LK III BADKO Papua Barat–Papua Barat Daya kali ini menghadirkan ruang refleksi penting:
HMI di Timur bukan sekadar melanjutkan sejarah, tetapi menata ulang arah perkaderan yang lebih modern, inklusif, dan kontekstual.

HMI memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa spirit awal — Ke-Indonesiaan, Ke-Mahasiswaan, Keislaman, dan Ke-HMI-an — tetap relevan, namun dieksekusi dengan pendekatan organisasi yang lebih tertata, profesional, dan sesuai AD/ART.

Masa depan HMI di Indonesia Timur adalah masa depan yang dibangun oleh kader-kader kritis yang mampu membaca sejarah, memahami konteks lokal, dan menggerakkan perubahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup