LATIHAN KADER 3 BADKO HMI Papua Barat-Papua Barat Daya  Kearifan Lokal sebagai Strategi Global: Menakar Potensi Sumber Daya Alam untuk Pelestarian Lingkungan dan Pariwisata Berkelanjutan di Raja Ampat

Papua Barat _ Raja Ampat kerap dielu-elukan sebagai surga terakhir di bumi. Kekayaan biodiversitas lautnya menjadikan wilayah ini sorotan dunia dan simbol pariwisata Indonesia di panggung global. Namun, di balik kekaguman tersebut, tersimpan persoalan mendasar: bagaimana memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam Raja Ampat tidak berujung pada eksploitasi yang merusak, tetapi justru memperkuat pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya bukan sekadar sebagai tradisi, melainkan sebagai strategi global.

‎Dalam perspektif Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah fil ardh, pemegang amanah untuk menjaga keseimbangan alam. Prinsip ini sejalan dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat adat Raja Ampat yang sejak lama mempraktikkan pengelolaan alam secara arif dan berkelanjutan. Tradisi pengaturan pemanfaatan laut dan hutan mencerminkan etika ekologis yang menolak keserakahan dan menegaskan batas antara kebutuhan dan kerakusan. Nilai ini seharusnya menjadi landasan utama pembangunan, bukan justru dikalahkan oleh logika pasar dan investasi jangka pendek.

‎” Riski Fattahila Peserta asal cabang Jayapura menyatakan Persoalan Raja Ampat tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab intelektual dan moral kader umat dan bangsa. Pembangunan pariwisata yang mengabaikan kearifan lokal sama artinya dengan menegasikan nilai keadilan sosial dan kemanusiaan. Pariwisata berkelanjutan sejatinya harus menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama, bukan sekadar pelengkap dalam narasi besar pembangunan nasional”.

‎Kearifan lokal Raja Ampat, jika dikelola secara serius, justru dapat menjadi model global pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas. Di tengah krisis iklim dan kerusakan ekologi dunia, pendekatan lokal yang berakar pada nilai spiritual, solidaritas sosial, dan keseimbangan alam menawarkan alternatif nyata atas kegagalan pembangunan yang eksploitatif. Globalisasi tidak seharusnya meminggirkan nilai lokal, melainkan belajar darinya.

‎” Dalam konteks LK 3, kader HMI dituntut untuk membaca realitas ini secara kritis dan transformatif. Raja Ampat adalah cermin bagaimana negara, pasar, dan masyarakat berinteraksi dalam pengelolaan sumber daya alam. Ketika kebijakan lebih berpihak pada modal daripada kelestarian dan keadilan, maka suara kritis kader menjadi keniscayaan. Membela kearifan lokal berarti membela keberlanjutan lingkungan, martabat masyarakat adat, dan masa depan generasi bangsa,sambungnya”

‎Pada akhirnya, menakar potensi sumber daya alam Raja Ampat tidak cukup dengan angka devisa dan jumlah wisatawan. Ukuran sejatinya terletak pada sejauh mana keadilan sosial, dan kearifan lokal dijadikan fondasi pembangunan. Raja Ampat mengajarkan bahwa strategi global untuk pelestarian lingkungan dan pariwisata berkelanjutan justru berakar kuat dari kebijaksanaan lokal sebuah pelajaran penting bagi Indonesia dan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup