Menembus Langit, Menjemput Dialog: Refleksi Perintah Shalat dalam Peristiwa Isra Mi’raj
Menembus Langit, Menjemput Dialog: Refleksi Perintah Shalat dalam Peristiwa Isra Mi’raj.
Oleh: Ryan Marthahudi
Peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi pada tahun ke-10 kenabian—sering disebut sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan—bukanlah sekadar mukjizat untuk menunjukkan kehebatan perjalanan supranatural. Lebih dari itu, peristiwa ini adalah sebuah “diplomasi langit” yang menghasilkan fondasi paling fundamental bagi kehidupan seorang Muslim: Perintah Shalat Lima Waktu.
Latar Belakang: Penghiburan di Tengah Penderitaan
Sebelum perjalanan ini terjadi, Nabi Muhammad SAW berada dalam titik terendah secara emosional. Beliau kehilangan dua pelindung utamanya, Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib. Di tengah tekanan kaum Quraisy yang semakin beringas, Allah mengundang kekasih-Nya ke singgasana tertinggi.
Pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: Ketika bumi terasa sempit dan pintu-pintunya tertutup, pintu langit selalu terbuka lebar. Perjalanan dari Masjidil Haram ke Sidratul Muntaha adalah simbol bahwa solusi atas segala masalah duniawi harus dicari dengan melibatkan kekuatan ukhrawi.
Keunikan Perintah Shalat: Tanpa Perantara
Dalam studi teologi Islam, kita mengenal bahwa zakat, puasa, dan haji diperintahkan melalui perantaraan Malaikat Jibril atau melalui wahyu yang turun di bumi. Namun, khusus untuk shalat, Allah SWT memanggil Nabi Muhammad SAW secara langsung ke hadirat-Nya.
Ini menandakan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat eksklusif. Shalat bukan sekadar kewajiban hukum (legal obligation), melainkan sebuah pertemuan sakral (sacred meeting). Jika Allah memanggil Nabi secara langsung untuk menerima perintah ini, maka setiap kali kita berdiri menunaikan shalat, kita sebenarnya sedang memenuhi undangan pertemuan dengan Sang Pencipta.
Dinamika Lima Puluh Menjadi Lima: Sebuah Manifestasi Rahmat
Momen yang paling dramatis dalam Isra Mi’raj adalah proses “negosiasi” jumlah waktu shalat. Dari 50 waktu hingga menjadi 5 waktu.
– Pelajaran tentang Kerendahan Hati: Nabi Muhammad SAW menunjukkan sifat seorang pemimpin yang sangat peduli pada kemampuan umatnya. Beliau bolak-balik antara Sidratul Muntaha dan langit tempat Nabi Musa AS berada demi memohon keringanan.
– Keadilan dan Kemurahan Tuhan: Meskipun secara kuantitas jumlahnya berkurang drastis (dari 50 menjadi 5), secara kualitas dan nilai pahala, Allah tetap menetapkannya setara dengan 50 waktu. Ini mengajarkan kita bahwa dalam Islam, kualitas niat dan ketaatan mampu melipatgandakan hasil.
Shalat sebagai “Mi’raj” Bagi Umat Islam
Jika Nabi Muhammad menembus batas-batas dimensi ruang dan waktu untuk bertemu Allah, maka kita diberikan “kendaraan” yang sama melalui shalat. Ulama sering menyebut: “Asshalatu Mi’rajul Mu’minin”—Shalat adalah Mi’raj-nya orang-orang beriman.
Setiap gerakan dalam shalat memiliki filosofi perjalanan tersebut:
- Takbiratul Ihram: Menanggalkan seluruh atribut duniawi di belakang punggung kita dan memasuki zona sakral.
- Rukuk dan Sujud: Bentuk ketundukan total (sebagaimana tunduknya seluruh makhluk di langit saat bertemu Cahaya Tuhan).
- Tahiyat: Sebuah pengulangan dialog antara Allah, Nabi Muhammad, dan hamba-hamba-Nya yang shaleh.
Relevansi di Era Modern: Menjaga Kewarasan Spiritual
Di zaman di mana gangguan (distraction) datang dari setiap sudut layar gawai kita, shalat lima waktu adalah mekanisme pertahanan diri. Ryan Marthahudi menekankan bahwa shalat adalah waktu di mana kita “mencabut kabel” dari hiruk-pikuk dunia dan “mengisi ulang” energi batin kita.
Tanpa shalat, manusia akan mudah terombang-ambing oleh egonya sendiri. Shalat menjadi jangkar agar kaki kita tetap membumi namun hati kita tetap tertambat di langit. Ia adalah pengingat bahwa sesibuk apa pun kita di bumi, kita punya janji temu yang tidak boleh dibatalkan dengan Sang Pemilik Kehidupan.



