Antara Lain; The Great Refusal Oleh : Muhammad Yusuf
Antara Lain; The Great Refusal
Oleh : Muhammad Yusu
Dengan bahasa sederhana, pemuda ini mengingatkan saya tentang rasionalisasi Herbert Marcuse.
Dalam buku epistemologi kiri, diterangkan salah satu pemikir, yakni Herbert Marcuse tentang pikirannya soal Rasionalitas Masyarakat Industri Maju.
Dalam buku itu kemudian diterangkan bahwa rasionalisasi mesti difahami dengan makna ganda, yaitu disatu pihak rasionalisasi merupakan kritik atas proses-proses produksi yang menghasilkan penindasan, dan di pihak yang lain merupakan apologi dalam membenarkan proses-proses tersebut untuk melestarikan kekuasaan.
Pandangan Herbert Marcuse tentang rasionalitas masyarakat industri maju mengkritisi sebuah konsep rasionalitas yang disebutkan sebagai rasionalitas teknologis.
‘Rasionalitas Teknologis’
Rasionalitas teknologis adalah suatu pola pemikiran atau dasar teknik yang menekankan efesiensi, produktivitas, kelancaran, kepastian, matematis dan perhitungan untung rugi.
Marcuse melihat peranan teknologi sangat dominan dalam masyarakat industri maju. Ilmu dan teknologi dianggap mampu mengatasi segala permasalahan kehidupan, sehingga yang terjadi adalah pengkultusan terhadap ilmu dan teknologi.
Ciri utama rasionalitas teknologis ini adalah bersifat ideologis, artinya tidak lagi netral. Rasio yang terjebak menjadi ideologi akhirnya akan kehilangan sifat hakikinya sebagai rasio. Bersamaan itu iapun telah kehilangan sifat kritisnya. Selanjutnya akan melahirkan suatu sistem masyarakat yang bersifat represif dan totaliter. Sistem ini pada akhirnya akan melahirkan pola pikir yang menekankan pada instrumentalisasi dan operasionalisasi.
Instrumentalisasi artinya pola pikir yang memandang alam dan manusia semata-mata hanya sebagai bahan atau materi bagi pencapaian suatu tujuan tertentu. Sedangkan operasionalisasi berarti segala konsep pengetahuan yang hanya diukur dari kegunaan yang dapat diterapkan.
Pandangan ini tentunya menyingkirkan dimensi pemikiran manusia lainnya dari khazanah pengetahuan manusia. Seperti metafisika dan pertimbangan nilai lain akhirnya tidak mendapatkan tempat dalam pengetahuan manusia.
Akibat instrumentalisasi dan operasionalisasi tersebut, maka ilmu dan teknologi sebagai penopang rasionalitas menjadi otonom.
Jika semula ilmu dan teknologi dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, ternyata pada masa modern manusia harus menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan ilmu dan teknologi.
‘Jalan Keluar’
Marcuse kemudian menawarkan cara untuk keluar dari rasionalitas ini dengan merevolusi ilmu dan teknologi. Revolusi yang dimaksudkan ialah mengubah cara pandang ilmu dan teknologi yang semula sebagai obyek penguasaan menjadi ‘kawan akrab’ dengan memelihara dan merawat obyek.
Apabila cara pandang terhadap alam tidak lagi bersifat dominatif dan eksploitatif, maka langkah selanjutnya adalah mengganti logika penguasaan menjadi logika yang tidak menindas.
Marcuse juga menyarankan agar manusia terbebas dari sistem represif dan totaliter, dengan menghidupkan pemikiran negasi.
Pemikiran negasi inilah yang diharapkan mampu membuka selubung ideologis.
Selain revolusi bidang ilmu dan teknologi, Marcuse juga menyarankan sebuah revolusi sosial, dengan sebutan gerakan The Great Refusal atau penolakan secara besar-besaran terhadap sistem yang menindas.
Keberanian mengatakan ‘tidak’ harus dihidupkan kembali.
Demikian kiranya gambaran singkat mengenai pemikiran Herbert Marcuse dalam buku tersebut.
Kemudian dengan teropong analisis tersebut, saya coba arahkan pada fenomena pemuda yang melanjutkan pendidikan hari ini. Dan saya melihat banyak diantaranya terjebak pada pola pikir yang instrumentalis dan operasionalis.
Kemudian saya teringat pada sebuah ungkapan dari tokoh revolusioner Indonesia, Tan Malaka, yang mengatakan,
“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan”.



