Indonesia dan Kekayaan Alamnya: Peluang Besar Menuju Kemandirian Ekonomi dan Pangan
PEKANBARU _ Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat luar biasa, baik dari sektor pertambangan yaitu Emas, Batu Bara, Tembaga, Nikel dan Minyak bumi. Dan tak kalah juga, Indonesia memiliki laut yang lebih luas dari pada daratan yaitu 60% adalah Laut dan sisa nya daratan, ini akan sangat berpotensi pada Product Domestic bruto terkait dengan kekayaan Sumber Daya Alam di Indonesia di bidang Perikanan dan Kelautan. Di sisi lain yang tidak kalah dari Indonesia adalah di sektor Pertanian, Indonesia adalah pemimpin dunia dalam Produksi dan Ekspor Crude Palm Oil (CPO).
Menurut Muhammad Ikhsan, Kader HMI Riau dan Peserta LK 3 Jateng – DIY ini ” Indonesia adalah penyumbang Nikel terbesar di dunia untuk industri baterai kendaraan Listrik, di Industri Emas Indonesia memiliki tambang Emas yang sangat Besar yaitu di Freeport di mimika, Indonesia juga produsen Timah terbesar kedua. Di komiditas Batu Bara, Indonesia termasuk terbesar di Dunia sebagai sumber Energi maupun Ekspor. Dalam sektor pertambangan meyumbang 11.9% Product Domestic Bruto (PDB) tahun 2023 dan pendabatan Ekspor Negara “.
Produksi Minyak bumi Indonesia mencapai sekitar 578-600 ribu barel perhari pada 2025, tetapi dalam konsumsi dalam sektor migas yang tinggi maka Indonesia menjadi Net Importer Minyak. Indonesia sebenarnya adalah pemain penting dalam industry migas tetapi karna konsumsinya yang sangat tinggi dan keterbatasan produksi tidak seperti negara timur tengah atau Venezuela sebagai produsen raksasa, Tambahnya.
Industry pertanian adalah sektor yang paling penting dalam Penyumbang Product Domestic Bruto (PDB) Nasional dan di sektor pertanian banyaknya penyerapan lapangan kerja, Indonesia adalah produsen dan ekspor Minyak Kelapa Sawit (CPO) terbesar Dunia. Dan belakangan pemerintah mulai sadar akan strategisnya sektor Perkebunan sawit dan menciptakan PT Agrinas untuk mengelola sawit di Indonesia melalui bagi hasil dengan pihak ketiga atas lahan yang disita oleh satgas PKH seperti Duta Palma dan Torganda di Riau.
Disamping itu pemerintah juga membuat program Swasembada pangan yang menggerakkan unsur dari pemerintahan baik itu dari Polisi, tentara dan Masyarakat untuk mulai menanam Jagung, padi dan lain-lain agar Indonesia tidak perlu mengimpor lagi untuk mencukupi ketangan pangan di Indonesia yang konsumtifnya lebih besar dari pada produksinya.
Disamping itu atas keseriusan Pemerintahan Prabowo mengatasi permasalahan Pangan di Indonesia beliau menciptakan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) yang berfokus pada ketahanan dan Kemandirian Pangan Nasional unntuk mengamankan program hilirisasi dan produksi pangan yang mandiri Bagi Indonesia.
Sembari pemerintah membangun atas kemandirian Pangan Nasional, pemerintah meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyelesaikan permasalah Stunting dan peningkatan SDM. Makan Bergizi Gratis (MBG) juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat Indonesia dan juga membuat perputaran uang atau ekonomi berjalan atas jual beli agar pemenuhan bahan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tercapai.
Ada juga kebijakan Ekonomi dari Pemerintah melalui menteri keuangan dengan meminjamkan uang kepada Bank Konvensional di Indonesia agar pertumbuhan ekonomi di Masyarakat tumbuh lebih cepat, pemerintah juga menekankan agar Bank tidak membuat bunga tinggi agar banyak masyarakat meminjam uang ke Bank Konvensional untuk membuat perputaran uang lebih kencang di bawah dan menyebabkan percepatan pertumbuhan Ekonomi Masyarakat.
Dengan beberapa kebijakan Ekonomi Pemerintah hari ini perlu adanya keseriusan pemerintah atas Pengawasan, dan juga konsisten atas Program yang hari ini dilakukan. Dalam bidang Pertambangan untuk peningkatan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pemerintah harus punya Strategi memfokuskan terkait Produksi Nikel di Indonesia sebagai Produsen terbesar melihat hari ini dunia sudah mulai beralih kepada mobil Listrik dan menjadi Peluang bagi Indonesia bersaing dalam Ekonomi Dunia dengan mempertimbangkam Dampak Lingkungan.
Selanjutnya Pemerintah sudah mulai harus menciptakan atas produk minyak Makan sendiri tidak harus Ekspor melulu, karna selama ini Indonesia ekspor CPO tetapi membeli Minyak Makan dari Luar dan ini sangat disesalkan bagi Indonesia.



