Dari Kebun Sawit, Harapan Baru Petani Lampung Tumbuh
Otentikindoensia.com – Di tengah hamparan kebun sawit yang membentang di Lampung, harapan baru bagi petani perlahan tumbuh. Bukan hanya soal panen, tetapi juga tentang masa depan yang lebih pasti.
Harapan itu mengemuka dalam pertemuan antara jajaran PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional VII dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Jumat (5/6/2026).
Di ruang kerja gubernur, pembicaraan tak sekadar soal target produksi, melainkan tentang bagaimana kebun bisa menjadi jalan bagi kesejahteraan.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV, Arya Sandhiyudha, menegaskan bahwa perusahaan tak ingin berdiri sendiri sebagai entitas bisnis.
“Kami tidak hanya mengejar target, tetapi juga ingin hadir sebagai penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Bagi para petani di sekitar kebun, skema kemitraan yang disiapkan menjadi lebih dari sekadar kerja sama.
Ini adalah peluang untuk naik kelas dari sekadar penggarap menjadi bagian dari rantai produksi yang lebih kuat.
PTPN IV menargetkan kemitraan hingga 1.700 hektare. Di Lampung, sebagian lahan mulai berproses.
Sementara di Sumatera Selatan, ratusan hektare sudah masuk tahap teknis. Namun angka-angka itu, bagi banyak petani, berarti satu hal: kesempatan.
Melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan dukungan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), pendampingan diberikan sejak awal dari pengurusan administrasi hingga masa panen pertama.
Sebuah proses panjang yang tidak selalu mudah, tetapi penting untuk memastikan hasil yang berkelanjutan.
Targetnya tidak kecil. Produktivitas diharapkan mencapai 18 ton per hektare pada masa awal panen. Namun lebih dari itu, yang ingin dicapai adalah kemandirian petani.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melihat upaya ini sebagai bagian dari gambaran besar pembangunan desa.
“Ekonomi daerah tidak bisa hanya bertumpu pada kota. Desa harus menjadi pusat pertumbuhan baru,” katanya.
Ia menilai keterlibatan perusahaan seperti PTPN IV menjadi kunci, terutama dalam mendukung program hilirisasi desa dan desa wisata yang tengah didorong pemerintah provinsi.
Bagi Lampung, hilirisasi bukan sekadar jargon. Di baliknya ada upaya mengolah hasil bumi sawit, padi, jagung, hingga singkongbagar memiliki nilai tambah dan tidak lagi berhenti di tingkat bahan mentah.
Program “Desaku Maju” yang digagas pemerintah provinsi menjadi ruang bagi kolaborasi itu.
Di sanalah perusahaan, pemerintah, dan masyarakat dipertemukan dalam satu tujuan membangun ekonomi dari bawah.
Di kebun-kebun yang jauh dari pusat kota, perubahan mungkin tidak datang dengan cepat.
Tetapi melalui kemitraan dan pendampingan yang berkelanjutan, harapan itu perlahan tumbuh seperti tunas sawit yang kelak menjadi sumber kehidupan.



